Vinoti Living dan Vivere Furniture – Tak ada teman abadi dalam politik. Adagium ini sudah sedemikian populer menggambarkan realitas kawan-lawan yang begitu mudah berubah di kancah politik. Namun sebenarnya, “tak ada teman abadi” tidak hanya terjadi di panggung politik, tapi juga di arena bisnis. Runut saja, tak sedikit kasus perkongsian yang berakhir dengan perceraian bisnis. Setelah pisah, masing-masing pihak memunculkan entitas bisnis yang bersaing sengit dan berhadapan langsung. Ini, misalnya, pernah terjadi pada kasus minyak goreng Bimoli yang dibesarkan Grup Salim dan Grup Sinar Mas.

Kasus pecah kongsi semacam ini juga terjadi di salah satu perusahaan furnitur yang punya nama, Grup Vinoti. PT Gema Graha Sarana (GGS) ,, perusahaan cikal-bakal yang juga perusahaan induk Vinoti ,, dibangun bersama-sama dari nol oleh Halistya Pramana dan Deddy Rochimat. Duet ini merintis usaha dari bisnis jasa kontraktor desain interior kantor, dengan mengusung merek Vinoti Interior Contracting. Namun, setelah kerja sama berlangsung hampir 20 tahun dan skala bisnisnya membesar (tak hanya menggarap bisnis kontraktor desain interior), pada 2003 mereka berpisah.

Walau sudah dua tahun lebih, berita pecah kongsi itu baru belakangan ini mencuat karena kini GGS yang dikomandani Deddy tak lagi memasarkan Vinoti, melainkan Vivere. Merek kedua ini ternyata merek baru keluaran Deddy yang punya sasaran pasar persis sama dengan Vinoti. Setelah pecah kongsi, Deddy berhak mengendalikan GGS, sedangkan Halistya memegang hak milik merek Vinoti. Di pasar, kini Vivere bersaing keras dengan Vinoti. Hampir di setiap lokasi strategis, di mana ada gerai Vinoti, di situ hadir gerai Vivere. Kini kantor Vinoti pun tak lagi di Gedung Jakarta Design Center, melainkan di bilangan Palmerah, Jakarta.

Banyak pihak yang menyayangkan pisahnya duet pendiri Grup Vinoti itu. Bagaimanapun, keduanya telah bersama dalam sedih dan senang membesarkan Vinoti dari nol menjadi merek furnitur ternama di Tanah Air. Di antara merek-merek asli lokal, Vinoti termasuk dalam barisan terdepan merek furnitur premium paling diingat. Level brand awareness-nya tinggi. Suatu prestasi yang sulit dicapai pemain lain. Apalagi, di industri furnitur, rata-rata produk masih dianggap sebagai komoditas, sehingga punya merek kuat seperti Vinoti sungguh suatu keunggulan tersendiri.

Memutar sejarahnya, Halistya dan Deddy mulai berkolaborasi membangun usaha funitur tahun 1988. Keduanya sepakat mendirikan perusahaan kontraktor jasa desain interior kantor. Ketika itu merek yang diusung ialah Vinoti Interior Contracting, yang dikibarkan di bawah bendera GGS. Keduanya berbagi: Halistya fokus di pemasaran sekaligus desain, sementara Deddy mengurusi operasional dan pengembangan bisnis. Bisnis ini berkembang baik hingga menelurkan unit-unit bisnis lain yang terkait dengan urusan interior. Antara lain, Vinoti Office Furnishing, yang dikembangkan melalui PT Vinotindo Grahasarana (meliputi pabrikasi/manufaktur produk furnitur, perlengkapan, beserta komponennya). Ada juga PT Prasetya Gema Mulia, yang membidangi mekanik dan instalasi listrik. Mereka juga punya bisnis jasa pemindahan kantor. Pendeknya, bisnis yang dibesut duet itu mulai terintegrasi dan bisa menyediakan layanan one stop shopping.

Tahun 1998, Grup Vinoti tak luput dari krisis. Hingga akhirnya usaha grup ini dialihkan ke ritel furnitur dengan merek Vinoti Home Living. Usaha ini dikibarkan dengan bendera baru, PT Graha Vinoti Kreasindo (GVK). Tahun 1999 di Plaza Senayan hadir gerai pertama Vinoti Living. Produk Vinoti Living yang elegan dan simpel ternyata diterima pasar sehingga gerainya terus ditambah. Seiring dengan waktu, krismon pun berlalu sehingga bisnis kontraktor desain yang dari awal menjadi andalan Grup Vinoti mulai semarak kembali. Jadi, bisnis lama dan bisnis baru bisa sama-sama tumbuh. Namun, cepatnya perkembangan bisnis grup ini pada gilirannya memicu kebutuhan penambahan modal, setidaknya agar memiliki kapasitas produksi yang bisa memenuhi permintaan pasar. Maka, pada 11 Juni 2002 GGS sebagai perusahaan induk Grup Vinoti, melakukan penawaran perdana ke publik (go public). Dua bulan kemudian, tepatnya 12 Agustus 2002, GGS resmi menjadi perusahaan furnitur dan kontraktor pertama yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

Namun, setelah organisasi dan skala bisnis mulai membesar, benih-benih perbedaan makin mencuat di antara kedua pendirinya. Perbedaan itu kemudian mencapai kulminasi ketika pada November 2002 Halistya memutuskan GVK memisahkan diri dari GGS, yang kemudian disahkan keputusan hukum pada Desember 2003. Apa penyebab perpecahan ini? Boleh dibilang karena perbedaan visi. ,“Saya melihat bisnis lifestyle furniture ini tidak bisa dibawa ke skala industri, sementara Pak Deddy berpikiran lain,, ungkap Halistya.

Di mata Halistya, bisnis furnitur tak bisa dibuat dengan skala industri yang massal, tetapi lebih ke karya seni yang sarat sentuhan personal. ,‚,“Di sini selalu melibatkan workmanship, bukan produk hasil keluaran pabrik industri, walau dalam bengkel Vinoti juga berlaku sistem manufaktur,, tutur wanita pengusaha yang berlatar belakang pendidikan desain ini. Hanya dengan pola itu, menurutnya, produk Vinoti bisa terkesan natural dan elegan, tak seperti produk kebanyakan. Alasannya, kesan mewah dan elegan adalah identitas khas yang diusung Vinoti.

Halistya mengisahkan, sebenarnya perbedaan cara berpikir dirinya dan Deddy sudah terjadi ketika hendak memutuskan antara harus go public atau tidak. Ia berpandangan tak mungkin Vinoti Living sebagai produk gaya hidup dijadikan perusahaan publik. Sementara Deddy, di lain pihak, bersikeras usaha ini harus berskala industri. ,‚,“Vinoti Living itu lebih kuat ke bidang desain. Di sini penting satu arahan kepemimpinan yang bisa menerapkan satu identitas desain yang kuat,, tutur arsitek lulusan Universitas Parahyangan dan peraih gelar Master dari Arizona State University, Amerika Serikat, itu.

Bagi Halistya, selera sang pemimpin sangat memengaruhi produk. Karena itu, ia tak rela identitas desain merek Vinoti menjadi kabur oleh keputusan bisnis. Maklum, buat perusahaan publik, kepentingan pemegang saham lebih berkuasa. Buat Halistya yang memang diberi tanggung jawab di bidang desain, Vinoti adalah identitas dan personal touch dirinya. Sebagai merek yang harus hidup sepanjang masa, ia merasa siapa pun yang menggantikan dirinya nanti adalah keputusannya sendiri, bukan keputusan RUPS. Apalagi, ia berpendapat — yang sebenarnya belum tentu tepat — di dunia bisnis internasional tak ada perusahaan publik yang menjual karya seni.

Sebelum perpisahan bisnis ini, ibu dari Vinny Vania Susilo (19 tahun) dan Vicko Valiant Susilo (13 tahun) itu mengaku sempat merasakan keberatan Deddy. Dirinya dinilai Deddy terlalu berkonsentrasi mengurusi Vinoti Living (GVK), sementara Vinoti Office Furnishing yang mereka bangun bersama sejak 1988 kurang mendapat perhatian Halistya, padahal kontribusi GVK terbilang kecil buat grup. Halistya dinilai berpikir terlalu detail buat Vinoti Living, padahal posisinya saat itu adalah presdir dari beberapa perusahaan di Grup Vinoti, sehingga Deddy berharap peran Halistya lebih ke arah strategis. Di lain pihak, Halistya melihat Deddy kurang menyadari bahwa kebanyakan orang lebih mengenal Vinoti sebagai furnitur rumah ketimbang perusahaan jasa kontraktor, karena itu dia lebih fokus mengurusi Vinoti Living karena di sinilah citra merek Vinoti dipertaruhkan.

Karena berbagai perbedaan dalam melihat bisnis di antara keduanya tak bisa dikompromikan lagi, mereka pun sepakat pisah. Proses bagi-bagi aset pun tak bisa dielakkan. Dari tiga kelompok usaha besar dalam grup, keduanya sepakat mengubah komposisi kepemilikan. Saham Halistya di GGS dilepas. Hal yang sama juga buat Deddy di GVK yang mengelola Vinoti Living. Otomatis gerai Vinoti Living kini seluruhnya milik Halistya. Namun, keduanya masih tetap punya saham di PT Vinotindo Grahasarana (Vinoti Office Furnishing), yang menurut Deddy 57% saham dimilikinya dan sisanya milik Halistya. ,‚,“Ini business decision, tapi the best of both for us,, ujar Deddy, Presdir GGS, mengomentari keputusan bubarnya perkongsian bisnis dengan Halistya.

Setelah tidak lagi bersama, nampaknya Deddy merasa perlu memiliki merek baru yang bisa menjadi identitasnya. Lahirlah Vivere. Deddy mengibarkan Vivere melalui bendera PT Vivere Multi Kreasi. Sejak Juni 2003, lima bulan sebelum keputusan hukum untuk perpisahan bisnis ini ditetapkan, ia pun mengembangkan gerai Vivere ke berbagai tempat strategis. Diakui atau tidak, Vivere tampaknya sengaja menempel gerai Vinoti yang menawarkan produk nyaris senapas. Buktinya, di mana ada gerai Vinoti, di situ ada gerai Vivere. “Dua tahun ini sudah kami buka 6 outlet” ujar Deddy. Saat ini setidaknya Vivere ada di Jakarta Design Center, Mal Kelapa Gading 2, Kemang Vilas, Pakuwon Surabaya dan Mal Pondok Indah. Namun, Deddy menyangkal kalau dikatakan Vivere sengaja menempel Vinoti. “Itu kebetulan saja, ujar lulusan teknik sipil dari STTN itu.

Otomatis, sejak berpisah dari Halistya, nama grup usaha Deddy bukan lagi Vinoti, melainkan Vivere. Hal ini juga sudah disetujui pemegang saham dalam RUPS 2005. Vivere dikembangkan dengan slogan “An atmosphere for life” dan memiliki empat kategori produk, yakni rumah, kultur (artwork berupa artefak), compliment (aksesori dekoratif), dan kantor. Grup Vivere mempunyai tiga unit bisnis besar, yakni interior dan manufakturing, elektris mekanis dan komponen furnitur. Selama ini pemasukan Grup Vivere 80%-nya berasal dari proyek perkantoran dan sisanya dari sektor hospitality, layanan publik dan residensial.

Kini sejumlah produk furnitur Grup Vivere telah diekspor ke Jepang. “Tidak pakai brand, karena mereka yang mendesain untuk pasar di sana” ujar Deddy. Selain itu, kayu veneer laminated untuk interior yang diproduksi di Cikande juga telah diekspor ke Korea, Amerika Serikat dan Timur Tengah. Hingga 2005 sebanyak 50 kontainer telah dikapalkan ke negara-negara itu. Untuk mendukung pemasaran ekspornya, Deddy rajin mengikuti berbagai ajang pameran di luar negeri. Selain memproduksi sendiri, Grup Vivere juga memegang sejumlah lisensi pemasaran produk luar negeri di Indonesia.

Persaingan dengan Vinoti dianggap Deddy sebagai hal yang wajar. “Ini baik untuk konsumen karena menjadi banyak pilihan. Tidak perlu lagi orang berbelanja ke luar negeri” katanya. Apalagi, ia menambahkan, selain Vivere dan Vinoti, juga bermain banyak merek lain yang masuk di kolam yang sama. Namun, menurutnya, dalam konteks persaingan Vinoti-Vivere, saat ini sebetulnya kondisinya cukup menguntungkan buat Vinoti. “Dia tahu luar-dalamnya kami”

Halistya juga melihat positif persaingan Vinoti-Vivere. “Ini penambah semangat. Kalau kami nggak ada saingan, malah jadi statis” ungkapnya. Terbukti, semenjak berdiri sendiri, penggemar warna putih ini terus gesit dan bersemangat mengembangkan bisnis. Dari sisi desain produk, misalnya. Saking seriusnya, ia bahkan merekrut desainer furnitur rumah Madonna, Eric Mainer, untuk membantu pengembangan desain Vinoti. Ia juga mengajak Eddy Utoyo sebagai penasihat desain. Beberapa anak muda lulusan master bidang seni dari sekolah luar negeri pun diajaknya bergabung. Salah satunya, Eridani Saleh (Dira) yang saat masih kuliah di Australia sempat mewakili Negeri Kanguru itu dalam kontes desainer di Jepang dan keluar sebagai pemenang. Semua langkah ini, menurut Halistya, sesuai dengan visinya, yaitu menawarkan produk yang variatif dengan desain pilihan. “Koleksinya cukup, tapi tidak asal ada” ujarnya. Untuk menambah eksklusivitas produk Vinoti Living sekaligus menghindari kejenuhan konsumen, semua produk punya masa penawaran.

Oleh Halistya, Vinoti Living juga dikembangkan tak semata menawarkan furnitur, tapi juga artwork berupa aksesori hiasan rumah. Belakangan Grup Vinoti juga membuka gerai baru Essential Bed & Bath — perlengkapan kamar tidur dan kamar mandi ,, bekerja sama dengan rekan bisnis asal Australia. “Namun kami punya perjanjian, tak boleh mengembangkan nama Vinoti untuk kategori produk lainnya” Halistya menceritakan. Maka, dikatakannya, jangan heran kalau tidak ada merek Vinoti untuk sarana dapur, misalnya.

Tahun 2003, ketika pecah kongsi, Vinoti Living sudah memiliki 6 gerai. Setelah dimiliki sendiri, Halistya membuka 6 gerai lagi di Indonesia dan satu gerai Vinoti di AS. Praktis, Grup Vinoti milik Halistya punya 16 gerai ritel furnitur. Rinciannya, gerai Essential sudah ada di Plaza Senayan, Kemang dan Mal Bali Galeria. Lalu, gerai Vinoti Living sudah ada di Jakarta (empat), Surabaya (dua), Bali (tiga), Bandung (tiga) dan San Francisco (satu), kota tempat putri sulungnya kuliah ,, di Academy of Art, San Francisco University.

Belakangan, Halistya juga mengembangkan unit bisnis yang dulu pernah ia besarkan bersama Deddy, yakni jasa kontraktor desain dengan merek Vilato — akronim Vinoti at Office. Beberapa proyek yang sudah digarap dalam setahun ini antara lain kantor American Insurance Underwriter di Gedung Bursa Efek Jakarta, kantor Conoco Philips, Grup Bakrie, Kedutaan Australia dan Grup Galaxy (Surabaya). Untuk menjalankan bisnis ini, ia mendirikan pabrik baru di Cileungsi. “Saya tak ada perasaan menyesal lepas dari grup. Saya bersyukur sudah membuat keputusan yang benar” tutur Halistya yang awalnya sempat sangsi usahanya bisa berkembang tanpa kongsi. Di awal kehadirannya Vinoti Living bisa tumbuh dua kali lipat. Tahun lalu, ia mengklaim, tumbuh 30%.

Halistya tak menampik persaingan bisnis furnitur semakin ketat. Namun, ia yakin, masing-masing pemain punya pasar tersendiri. Ia mencontohkan, ada orang yang suka merek Da Vinci tapi belum tentu suka Vinoti. Begitu juga sebaliknya. ,‚,“Ini menyangkut taste pribadi,, ujarnya. Sebab itu, ia merasa tak perlu membuat iklan TV untuk promosi sebagaimana dilakukan Vivere. Ia memilih membangun komunitas yang fanatik pada merek Vinoti.

Pengamat pemasaran Hermawan Kartajaya melihat perseteruan Vinoti vs. Vivere serupa dengan perseteruan Indofood (Grup Salim ) melawan Sinar Mas. Mereka bekerja sama mengembangkan minyak goreng merek Bimoli, tapi kemudian di tengah jalan bubar. Eva Riyanti Hutapea, CEO Indofood kala itu, memilih membayar Rp 25 miliar untuk mendapatkan hak milik merek Bimoli. Adapun Sinar Mas rela kehilangan merek Bimoli karena mendapatkan Rp 25 miliar, dan langsung membuat merek minyak goreng baru dengan merek Filma. “Sepintas (Grup Salim) membuang uang Rp 25 miliar, namun pandangan itu belum tentu tepat karena faktanya sampai sekarang Filma susah mengejar Bimoli” ungkap Hermawan.

Bila ada perselisihan semacam itu, Hermawan lebih melihat posisi yang diuntungkan adalah yang memilih memiliki merek yang sudah kuat. Contohnya, Indofood yang sampai kini terus menikmati omset hingga Rp 1 triliun/tahun, sehingga angka Rp 25 miliar yang dikeluarkannya terasa tidak berarti lagi. Posisi Bimoli sebagai pemimpin pasar tak tergoyahkan, oleh Filma sekalipun. Bahkan, Filma kini justru nyaris tersalip pemain lain, terutama Tropical. “Kalau ditanya, pilih uang atau brand? Maka harus pilih brand, ingat Bimoli dulu” ujar Hermawan membenarkan langkah Halistya memilih memiliki Vinoti yang brand awareness-nya sudah kuat. “Brand Vinoti sudah kuat, Vivere baru mulai. Membuat brand sekelas Vinoti kan berat. Perlu waktu, ketepatan dan kreativitas. Gak cuma duit tok” ia menambahkan. Alasannya, dengan merek yang sudah kuat, bisa di-leverage ke berbagai bisnis lainnya, termasuk strategi diversifikasi pun sangat mungkin dilakukan.

Dalam kasus Vinoti-Vivere, jika kita memakai analisis Hermawan tadi yang membandingkannya dengan kasus Bimoli, Halistya memang lebih diuntungkan dengan tetap memegang merek Vinoti. Namun, tentu saja ini juga tergantung pada kekuatan dan kegigihan Deddy — yang kini mungkin didukung kekuatan finansial yang lebih mantap — membangun merek Vivere. Nah, kita tunggu saja episode Vinoti-Vivere berikutnya.

Sumber :

swa.co.id/swa/listed-articles/vinoti-vs-vivere-persaingan-mantan-pasangan-bisnis

Meja-Tamu-Marmer-Diamond

Sofa-Minimalis-Murah-Riau-211

Sofa-Bangku-Minimalis-Jati-Panjang-Murah-Boston

Sofa-Diamond-2-dudukan-kayu-Jati

Robinson-Sofa-3-dudukan-minimalis-klasik-chesterfield

Sofa Tamu Klasik Mewah

 

Sofa Ruang Tunggu Teras

Sofa Kulit Putih

Sofa-Tamu-Minimalis-Set-Malang

bella-sofa-minimalis-murah-2-dududukan

Trends Mebel Terbaik:

deddy rochimat, furniture vivere, grup vivere interior, kursi saingan davinci, Proyek pt Ggs di padang, vinoti, vinotti living