Muhtaza Aziziya Syafiq dan Anjani Rahma Putri, dua siswi SMA Negeri 2 Sekayu, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Palembang, Sumatera Selatan, menyabet penghargaan di ajang Intel ISEF (International Science and Engineering Fair) di Los Angeles, Amerika Serikat. Karya ilmiah mereka berjudul Green Refrigerant Box atau kulkas tanpa listrik sukses meraih Development Focus Award senilai USD 10 ribu dari the US Agency for International Development.

“Kami juara 2 award, juara 3 dan spesial award dari partner-partner Intel ISEF,” kata Muhtaza Aziziya Syafiq usai menemui Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan diruangannya di Gedung Kemendikbud Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Selatan, Senin (22/12).

Ide membuat Green Refrigerant Box atau kulkas tanpa freon dan listrik itu muncul dari tempat mereka tinggal, di Kabupaten Musi Banyuasin, Palembang, Sumatera Selatan. Daerah tempatnya tinggal kaya akan buah dan sayuran namun minim listrik. Dari pengalaman hidupnya itulah Muhtaza dan Anjani membuat karya ilmiah demikian.

“Karena prihatin sama kondisi pasar yang buahnya itu dalam kondisi membusuk, terus kita memang memaklumi karena kebunnya jauh dari kabupatennya, transportasi juga susah, jadi wajar sampai ke pasar itu kondisinya udah membusuk,” katanya.

“Di Musi Banyuasin, kebetulan kami sekolah di pusat kota kabupatennya, yaitu di Sekayu, tapi di daerah-daerah seperti yang di luar sekayunya, desa-desanya itu listrik terbatas, hidup malam doang, siang tidak,” imbuhnya.

Atas dasar pengalaman hidup itu maka ide untuk membuat alat pendingin untuk menyimpan buah yang tidak bergantung pada listrik dan freon muncul. Menurutnya dalam waktu 2 jam 20 menit, dengan alat ciptaannya suhu semula 28 derajat celcius, mampu turun menjadi 5,5 derajat celcius. Keduanya pun berencana membuat alat yang sama khusus ikan.

“Sekarang ini masih terbatas untuk buah dan sayuran, tapi kami akan kembangkan lagi untuk vaksin dan ikan. Tapi suhunya nggak bisa 5,5, harus nol,” ujarnya.

Kedua siswi ini juga menggunakan bahan-bahan bekas untuk mewujudkan karya mereka.

“Pompanya hanya botol bekas, ini kami modifikasi sendiri. Kebanyakan yang kami gunakan adalah barang-barang dari limpah,” kata mereka.

uniknya-kulkas-tanpa-listrik-karya-2-siswi-sma-yang-menang-di-as