Nilai tukar Rupiah yang sempat hampir menyentuh Rp 13.000 per USD, akhirnya ditutup menguat ke kisaran Rp 12.600 per USD. Pelemahan nilai tukar Rupiah beberapa hari terakhir tidak membuat pemerintah dan Bank Indonesia khawatir. Melemahnya Rupiah justru dipandang sebagai momentum untuk menggenjot ekspor yang selama ini terus terpuruk. Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs menyebut eksportir sebagai salah satu pihak yang diuntungkan dengan kondisi ini.

Bank sentral menyebut, nilai positif dari pelemahan Rupiah adalah membaiknya kinerja ekspor. “Sekarang ini nilai ekspor Indonesia sudah terus membaik dengan peningkatan ekspor nonmigas, ekspor manufaktur kita juga sangat membantu neraca perdagangan. Jadi, dengan Rupiah saat ini every body happy,” ujar Peter di Jakarta, Selasa (16/12).

Meski begitu, bank sentral mengaku tidak membiarkan Rupiah terus melemah. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, bank sentral masih mengandalkan cara tradisional yakni menggunakan cadangan devisa untuk mengintervensi pasar uang. Hingga November 2014, cadangan devisa Indonesia mencapai USD 111,1 miliar. “Cadangan devisa kita masih mampu untuk intervensi rupiah di pasar,” kata Peter.

Selain itu, bank sentral juga terus memantau pergerakan dan transaksi di pasar uang. “Kami hajar pihak-pihak yang terlihat bertransaksi besar. Misalnya, mereka itu hanya dua atau tiga orang yang membuat fluktuasi,” tegasnya.

rupiah-dekati-rp-13000-wapres-jk-akui-banyak-masyarakat-senang