Makanan cepat saji saat ini sudah banyak dikonsumsi, terutama oleh anak-anak. Seringkali anak-anak tertarik dengan kemasan dan penyajian dari makanan cepat saji. Meski sudah tahu bahwa makanan cepat saji tak memberikan nutrisi yang baik untuk anak, namun masih banyak orang tua yang membiarkan anak mereka mengonsumsi makanan tersebut. Para orang tua tampaknya tak mengetahui efek buruk yang bisa diberikan makanan cepat saji pada anak mereka. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji tak hanya memicu obesitas pada anak-anak, melainkan juga mempengaruhi otak mereka. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Ohio State University menunjukkan bahwa makan makanan cepat saji bisa memperlambat cara kerja otak anak.

“Selama ini penelitian fokus pada efek makanan terhadap obesitas pada anak-anak. Namun penelitian kami memberikan bukti bahwa mengonsumsi makanan cepat saji berkaitan dengan masalah lain, yaitu menurunkan kemampuan otak anak,” ungkap ketua peneliti Kelly Purtell, seperti dilansir oleh Daily Health Post (26/12).

Hasil ini didapatkan peneliti setelah mengamati data dari 8.544 anak sekolah di Amerika. Peneliti mengukur seberapa sering anak-anak itu mengonsumsi makanan cepat saji pada usia 10 tahun, kemudian membandingkannya dengan nilai akademis mereka. Kemudian peneliti mengulang penelitian tersebut tiga tahun setelahnya. Anak yang mengonsumsi makanan cepat saji hampir setiap hari memiliki nilai yang lebih buruk. Mereka juga menemukan bahwa konsumsi makanan cepat saji membuat otak anak bekerja lebih lambat dan membuat mereka kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah. Meski begitu, dalam penelitian ini peneliti tak hanya mengukur kaitan antara kemampuan otak anak dengan makanan cepat saji saja. Mereka juga menghitung variabel lain yang kemungkinan mempengaruhi seperti aktivitas fisik, indikator kelas ekonomi, dan menghitung berapa waktu yang dihabiskan anak untuk menonton televisi.

makanan-cepat-saji-sebabkan-serangan-asma