Pemerintahan baru Jokowi-JK diminta untuk menunda kenaikan harga BBM hingga awal tahun 2015. Apabila dinaikkan bulan November 2014 nanti dikhawatirkan akan menyebabkan inflasi tinggi, kata pengamat ekonomi. Rencana untuk menaikkan harga BBM ini untuk menyehatkan anggaran negara, namun demikian pemerintahan Jokowi-JK tidak mau terburu-buru. Hari Selasa (28/10) ini, rencana menggelar rapat tim ekonomi yang antara lain membahas skenario kenaikan harga BBM dan dampaknya terhadap inflasi, ditunda setelah menteri perekonomian Sofyan Djalil dipanggil mendadak oleh wakil presiden Yusuf Kalla.

“Rapat interupted, karena saya dapat panggilan ke kantor Wakil Presiden,” kata Sofyan.

Tidak diketahui alasan pemanggilan ini. Tetapi dalam keterangan sebelumnya, Menko Perekonomian Sofyan Djalil berjanji untuk menggelar rapat khusus membahas kenaikan harga BBM “dalam waktu secepatnya.“

Sebelumnya, Menteri Energi Sudirman Said mengatakan, pengalihan subsidi BBM menjadi salah satu prioritas Presiden Joko Widodo. Ini ditekankan karena kenaikan harga BBM bersubsidi dipandang dapat menyehatkan kembali anggaran negara. Namun demikian pemerintah kini sedang berhitung sejauhmana efek kenaikan harga BBM, apabila sampai Rp 3.000/ liter, bisa berdampak pada lonjakan inflasi, kemiskinan hingga masalah sosial.

Para pengamat memperkirakan apabila BBM naik Rp 3.000/ liter, inflasi akan bertambah menjadi 3,5 %. Sebelum menaikkan harga BBM bersubsidi, pemerintah juga disarankan agar bisa memastikan kecukupan stok pangan, dan program sosial yang bisa mempertahankan daya beli masyarakat. Tanpa upaya ini, daya beli masyarakat dikhawatirkan akan tergilas dan pertumbuhan ekonomi akan melemah. Namun demikian, analis lainnya mengusulkan, lebih baik harga BBM naik secepatnya. Walaupun ini diakui akan melemahkan ekonomi, tetapi dampak positifnya terasa pada masa-masa mendatang.

140825103020_indonesia_petrol_640x360_getty

Trends Mebel Terbaik:

pengrajin mebel kayu jati panggilan di kota mojokerto