Supaya jamu yang disebut tradisional dapat diterima dengan baik dikalangan remaja, hal pertama yang harus diperhatikan adalah cara memasarkannya. Bila kemasan jamu tradisional terlalu kuno dan tua, sudah pasti susah diterima anak-anak muda.

Profesor riset ke-11 Bidang Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Dr. dr. Lestari Handayani, M. Med, mengatakan,”Cara pemasaran jamu tradisional kepada remaja harus gaul, jangan kesannya orangtua. Akhirnya, remajanya jadi males.”

Menurut Lestari, pasarkanlah jamu tradisional sesuai keinginan anak muda, mungkin dengan mengemas jamu tradisional ke dalam kemasan yang bisa dibawa, seperti saat para remaja membeli kopi di sejumlah gerai kopi ternama.

“Perlu dilakukan seperti itu. Namun, perlu diperhatikan juga cara pengemasannya, jangan sampai menggunakan bahan yang berbahaya,” kata dia kepada Health-Liputan6.com di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jl. H.R. Rasuna Said, Mega Kuningan, Jakarta, Senin (24/11/2014)

Namun, Lestari Handayani merasa bersyukur, karena saat ini sudah ada cafe yang khusus menjual jamu tradisional. “Kan sudah jelas, kalau jamu baik sekali bagi kesehatan. Ini lebih baik untuk pencegahan dan menjaga kesehatan,” kata dia menekankan.

Diakui Lestari, sebenarnya jamu tradisional di Indonesia sudah begitu merakyat. Hanya saja, tidak memenuhi tuntutan masa kini dalam hal kemasan, sehingga tidak begitu populer di kalangan remaja.

70329_620

Trends Mebel Terbaik:

harga kursi tamu anak muda